Belajar Melihat Peluang Bersama Neda Tanaga
Sering kali kita menganggap tantangan sebagai hambatan, sesuatu yang membuat langkah kita melambat atau bahkan berhenti. Padahal, di balik setiap tantangan, ada peluang yang menunggu untuk ditemukan. Perspektif ini teringat kembali ketika saya membaca tulisan Julius Deliawan A.P. di Kompasiana tentang seorang tokoh muda bernama Neda Tanaga.
Tulisan itu sederhana, tetapi sarat makna. Julius bercerita tentang perjumpaannya dengan Neda sejak masih di bangku sekolah hingga kini menapaki karier cemerlang di dunia korporasi. Dari situ, saya menangkap sebuah pelajaran penting: orang yang terbiasa menganalisis masalah dengan jernih, akan lebih siap menemukan solusi dan peluang di kemudian hari.
Neda sejak remaja sudah menunjukkan kecerdasannya. Ia aktif berdebat, pandai menyusun argumen, dan tekun dalam belajar. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya kecerdasannya, melainkan juga cara ia memandang masa depan. Bayangkan, di usia sekolah, ia sudah bercita-cita menjadi diplomat untuk memperkenalkan Indonesia dari sisi yang berbeda—bukan hanya melalui berita negatif yang kerap muncul di media internasional. Itu menandakan visi besar yang jarang dimiliki anak muda seusianya.
Meski akhirnya jalan hidup membawanya bukan ke dunia diplomasi, Neda tidak kehilangan arah. Ia menekuni bidang capital market dan corporate finance, lalu dipercaya menjadi Head of Department Corporate Development di PT Astra Internasional Tbk. Bidang ini bukan sekadar urusan angka, melainkan tentang kemampuan membaca arah perkembangan perusahaan, menganalisis risiko, sekaligus menemukan peluang pertumbuhan.
Ada satu hal menarik dari pernyataan Neda yang dikutip Julius: “Melihat peluang membutuhkan riset dan analisis.” Sekilas terdengar teknis, tetapi jika direnungkan, itu adalah pesan universal. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita memerlukan riset kecil-kecilan, entah ketika hendak memulai usaha, mencari sekolah terbaik untuk anak, atau bahkan sekadar menentukan prioritas dalam mengatur waktu. Tanpa analisis, kita mudah terjebak hanya pada apa yang terlihat di permukaan.
Namun Neda juga mengingatkan adanya jebakan: sering kali orang hanya mencari data untuk membenarkan pendapat yang sudah dimiliki sejak awal. Padahal, analisis sejati justru membuka mata kita pada risiko, sekaligus memberi jalan agar solusi lebih matang. Di sinilah kunci keberhasilan—bukan hanya pandai mencari peluang, tetapi juga siap menghadapi tantangan yang mungkin datang bersamanya.
Membaca kisah ini, saya merasa bahwa semangat yang ditunjukkan Neda Tanaga sangat relevan dengan kehidupan kita. Sama seperti isu lingkungan yang sering saya tulis di blog ini, banyak orang memandang limbah hanya sebagai masalah. Tetapi bagi yang mau melakukan riset, belajar, dan menganalisis, limbah justru bisa menjadi sumber energi baru, bahkan solusi bagi masa depan.
Inspirasi dari Neda mengajarkan kita untuk tidak berhenti di batas “masalah”. Dengan pandangan yang jernih, riset yang serius, dan analisis yang terbuka, setiap tantangan bisa berubah menjadi peluang.
Bagi Anda yang ingin membaca kisah lengkap tentang perjalanan dan pandangan Neda Tanaga, silakan kunjungi tulisan Julius Deliawan A.P. di Kompasiana:
👉 Belajar Menemukan Peluang dari Neda Tanaga


Komentar
Posting Komentar